Sosialisasi B2SA dan PELAKAT, Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima Ajak Generasi Muda Gemar Konsumsi Pangan Lokal dan Menanam Sejak Dini
KOTA BIMA, 8 Oktober 2026 — Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima terus memperkuat edukasi konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serta pemanfaatan lahan kantor dan lahan kosong melalui program Pemanfaatan Lahan Kantor (PELAKAT). Kegiatan sosialisasi yang menyasar lingkungan pendidikan dasar ini dilaksanakan sebagai upaya menanamkan kesadaran pentingnya pola konsumsi sehat sekaligus membangun kebiasaan menanam sejak dini pada generasi muda.
Kegiatan yang dilaksanakan di SDN 29 Kota Bima tersebut diisi dengan penyampaian materi oleh Nurwahyuni, SP dan Irmayana Rahman, SP. Keduanya memberikan edukasi mengenai pentingnya penganekaragaman konsumsi pangan, pemanfaatan pangan lokal, serta keamanan pangan bagi peserta didik. Edukasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman guru dan masyarakat tentang pentingnya membiasakan pola makan sehat sejak usia sekolah.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima, Gufran, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa konsumsi pangan bergizi dan seimbang tidak harus selalu bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Masyarakat perlu membiasakan diri mengonsumsi berbagai sumber pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.
Menurut Gufran, keberagaman pangan merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, kebiasaan yang menganggap belum makan apabila belum mengonsumsi nasi perlu secara bertahap diimbangi dengan pemahaman bahwa berbagai bahan pangan lokal juga dapat menjadi sumber energi dan zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
“Pola konsumsi pangan yang baik adalah pola makan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Kita memiliki banyak potensi pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Karena itu, mari kita biasakan mengonsumsi umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari,” demikian pesan yang ditekankan dalam sambutan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima.
Selain mendorong konsumsi pangan lokal, Gufran juga menekankan pentingnya pemanfaatan lahan kantor maupun lahan kosong yang tersedia untuk menanam tanaman sayuran. Melalui program PELAKAT, lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi ruang produktif yang mendukung ketersediaan pangan segar sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi peserta didik.
Ia mengajak anak-anak untuk mulai mengenal kegiatan bercocok tanam sejak dini, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen tanaman. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, meningkatkan pengetahuan tentang sumber pangan, serta membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sekolah, kantor, dan rumah tangga.
Pola Pangan Harapan Kota Bima Perlu Terus Ditingkatkan
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan kegiatan, skor Pola Pangan Harapan (PPH) Kota Bima mencapai 89,1. Capaian ini menunjukkan bahwa kualitas konsumsi pangan masyarakat telah berada pada arah yang baik, tetapi upaya peningkatan keberagaman konsumsi tetap perlu diperkuat.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kebiasaan konsumsi masyarakat yang masih menjadikan nasi sebagai makanan utama yang dianggap wajib. Padahal, masyarakat Bima memiliki potensi pangan lokal yang beragam, termasuk jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.
Melalui Bidang Teknis Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima terus melaksanakan edukasi dan sosialisasi B2SA kepada masyarakat, terutama peserta didik pada jenjang pendidikan dasar. Kegiatan di lingkungan sekolah, termasuk SDN 1 Melayu dan SDN 29 Tanjung, menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai konsumsi pangan yang sehat dan beragam.
Konsep B2SA menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak hanya bertujuan mengenyangkan, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan gizi, memiliki komposisi yang seimbang, serta terjamin keamanannya. Dengan kreativitas dalam mengolah dan memadukan bahan pangan lokal, masyarakat dapat menghadirkan menu yang menarik, lezat, dan bergizi tanpa harus selalu bergantung pada bahan pangan tertentu.
B2SA sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Perkotaan
Penerapan pola konsumsi B2SA semakin penting bagi masyarakat perkotaan. Perubahan gaya hidup dan kemudahan memperoleh makanan siap saji dapat memengaruhi kualitas konsumsi pangan apabila tidak diimbangi dengan pemilihan makanan yang tepat.
Pertama, konsumsi pangan yang beragam dan seimbang membantu mendukung pola hidup sehat serta mengurangi risiko penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan tidak sehat.
Kedua, keamanan pangan perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat harus membiasakan diri memilih, mengolah, dan menyimpan makanan secara benar agar terhindar dari cemaran fisik, kimia, maupun biologis yang dapat membahayakan kesehatan.
Ketiga, keterbatasan lahan di wilayah perkotaan dapat diatasi melalui pemanfaatan pekarangan, lahan kantor, dan ruang kosong untuk kegiatan urban farming. Penanaman sayuran dan tanaman pangan lainnya dapat membantu menyediakan pangan segar sekaligus meningkatkan kemandirian pangan keluarga dan lingkungan.
Keempat, pemanfaatan pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian dapat memperluas pilihan menu rumah tangga. Dengan perencanaan konsumsi yang baik, masyarakat dapat menyesuaikan kebutuhan gizi dengan kemampuan ekonomi tanpa mengabaikan kualitas makanan.
Kelima, edukasi B2SA bagi anak-anak dan keluarga berperan penting dalam membangun kebiasaan makan yang baik sejak dini. Pengenalan komposisi makanan yang seimbang, termasuk makanan pokok, sayuran, lauk-pauk, dan buah-buahan, dapat membantu mendukung tumbuh kembang anak dan upaya pencegahan masalah gizi.
Memperkuat Pangan Lokal dan Keterjangkauan Pangan
Pemerintah Kota Bima juga terus mendorong pemanfaatan pangan lokal dan menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), termasuk kegiatan yang dikenal sebagai SAMARASA, sebagai bagian dari langkah mendukung akses masyarakat terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau.
Pelaksanaan kegiatan pangan murah melalui kerja sama dengan Perum Bulog dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Bima menjadi salah satu bentuk sinergi untuk mendukung stabilitas pasokan dan harga pangan. Informasi jadwal pelaksanaan serta komoditas yang tersedia perlu mengikuti ketentuan resmi pemerintah daerah.
Melalui sosialisasi B2SA dan PELAKAT, Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima berharap semakin banyak peserta didik, guru, dan masyarakat yang memahami bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga kualitas gizi, keamanan, keberagaman konsumsi, serta kemampuan memanfaatkan potensi pangan di lingkungan sekitar.
Ke depan, edukasi yang berkelanjutan diharapkan mampu membangun budaya konsumsi pangan lokal yang lebih baik sekaligus menumbuhkan kebiasaan menanam sejak dini. Dengan demikian, sekolah, kantor, dan rumah tangga dapat menjadi bagian dari gerakan bersama menuju masyarakat Kota Bima yang sehat, mandiri, dan berketahanan pangan.
Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima
BerAKHLAK — Melayani dengan Sepenuh Hati